Minggu, 01 April 2012

Umi Sardjono


Sejarah gerakan perempuan Indonesia tak bisa lepas dari namanya. Beliau bernama Umi Sardjono, lahir di Semarang pada 24 Desember 1923 dan meninggal di usia 88 tahun. Semasa muda Umi mengenyam pendidikan di Semarang hingga kuliah di Akademi Sosial Politik, lantas melanjutkan sekolahnya di Jakarta pada 1950-an.

Umi meninggal di kampung halamannya, semasa sakit Umi dirawat seorang keponakan dan ia juga yang sudah menemani Umi hingga menutup mata. Kampung halaman Umi berada di Jalan Tegalan, Matraman, Kampung Melayu, Jakarta Pusat.

Umi juga tercatat sebagai salah satu penghuni Panti Waluyo Sejati Abadi di Jalan Kramat V, Jakarta. Di panti tersebut, Umi tinggal bersama belasan pe­rempuan korban 1965. Panti yang diresmikan Gus Dur dan Taufiq Kiemas itu menampung para korban G30S/1965 yang rata-rata pernah dipenjara minimal 11 tahun.

Dikisahkan semasa zaman pendudukan Jepang, Umi membuka warung di depan markas tentara Peta, yang digunakan sebagai pos penghubung antara para aktivis dengan kelompok gerakan komunis bawah tanah. Umi merupakan istri seorang pria benama Sukisman (seorang pemimpin PKI), tentunya secara langsung Umi juga merupakan anggotanya.


“Aku terjun ke politik karena ingin bergabung di organisasi. Dulu organisasi perempuan lain diskriminatif karena posisi sosial. Maka saya ingin dirikan organisasi perempuan sendiri. Saya ajak teman, SK Trimurti (menteri perburuhan saat itu). Kami dirikan Gerwis, lalu Gerwani,” ujar Umi yang disampaikan dalam wawancara terbuka bersama jurnalis tahun lalu.

Konsep gerakan perempuan sudah ada di kepala Umi sejak ia bergabung di Barisan Buruh Wanita yang ada di bawah Partai Buruh Indonesia (PBI). Umi berpikir bahwa sebuah organisasi perempuan dengan para kader yang me­miliki kesadaran politik, merupakan kebutuhan mendesak.

Umi lahir di Salatiga pada 23 Desember 1924. Ayahnya seorang lurah, juga pejuang nasionalis. Darah pejuang Umi berhulu jauh pada kakek buyutnya yang seorang prajurit Diponegoro. Setelah kalah perang melawan Belanda pada 1830, sebagian pasukan Diponegoro menyingkir ke Salatiga. Babad alas, membuka lahan pertanian dan beranak-pinak disana. Kakek Umi salah satunya.

Umi menetapkan jalan revolusioner sejak gadisnya. Merekah cantik di usia 20-an tahun, dia bergabung dalam pasukan gerilya. Ia anggota Laswi (Laskar Wanita) dan bertempur di garis depan melawan Jepang.

“Anggota Laswi itu ratusan. Ada di tiap kabupaten. Waktu itu kan semangat revolusi kemerdekaan, semua orang terpanggil berjuang dalam perang gerilya. Laswi memiliki beberapa unit, yakni dapur umum, palang merah, kurir dan garis depan. Bu Umi ini penah jadi kurir, juga pernah di garis depan. Pegang senjata lho jeng!“ imbuhnya. Lestari bertubuh mungil dan ramah. Selalu menambahkan ‘jeng’ dalam kalimatnya. 11 tahun ia mendekam di penjara Malang”, tutur Umi.

Gayung bersambut saat seorang kawan dari Laskar Perempuan mengajak Umi membangun organisasi perempuan. Ia kemudian juga menggandeng Menteri Perburuhan di Era Kabinet Amir Sjarifuddin, SK Trimurti.

Ide organisasi perempuan ini sempat ditentang oleh afiliasi tiga partai kiri (PKI, Partai Sosialis Indonesia, dan PBI). Namun, Umi jalan terus. Pada 4 Juni 1950, Umi dan Trimurti berhasil menghimpun tujuh organisasi massa perempuan dalam wadah bernama Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berkantor di Semarang.

Umi pernah tertangkap di Blitar dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan membantu pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) pimpinan Supriyadi. Di Blitar juga yang mempertemukannya dengan dua orang penting dalam hidupnya, Sukisman Sarjono, aktivis PKI yang kemudian dinikahinya, dan SK Trimurti, kawan seperjuangan sejak gadis hingga di ujung senja. Paska Agresi militer II, Umi kembali terjun ke jalan gerilya.

Seperti Umi, SK Trimurti yang akrab disapa Tri, juga keluar masuk penjara sejak muda. Tahun 1947, ia diangkat sebagai Menteri Perburuhan pada kabinet Amir Syarifudin. Tri adalah ketua Partai Buruh Indonesia. Umi pun bergabung di sana.

Kemerdekaan digenggam, namun perjuangan memerangi imperialisme belumlah tamat. Untuk memperkuat perjuangan emansipasi, sejumlah perempuan memandang perlu dibangun satu organisasi perempuan, yang berkesadaran politik. Berdirilah Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar), yang berkongres pada Juni 1950. Gerwis merupakan gabungan dari tujuh organisasi perempuan. Tris Metty terpilih sebagai ketua, Umi dan Trimurti sebagai wakil ketua. Tris Metty adalah karib Umi di Laswi.

Sejak awal kiprahnya Gerwis menempuh jalan anti imperalisme. Membangun kesadaran perempuan akan hak-hak politiknya, meningkatkan upah buruh, memperjuangkan kesejahteraan dan pendidikan anak, merupakan beberapa visi yang disepakati dalam Kongres. Pada Kongres berikutnya di tahun 1954, Gerwis beralih nama menjadi Gerwani. Umi terpilih sebagai ketua umum. Harti Warto, Ny Mudigdo dan Salawati Daud sebagai wakil ketua. Sekretaris Jendral dijabat oleh Sulami, Kartinah Kurdi, dan Masyesiwi.

Jika pada tahun 1950-an adalah masa-masa pembangunan ke dalam bagi Gerwani, 1960-an adalah masa emas. Itu pula titik terpenting kepemimpinan Umi. Jumlah kader bertambah subur. Program-program populis, mulai dari pendirian sekolah dan penitipan anak, menyelenggarakan kursus-kursus pemberantasan buta huruf, hingga kampanye pembebasan Irian Barat.

Diungkapkan pada 4 Juni 1950, Umi dan SK Trimurti menghimpun enam organisasi massa perempuan dalam wadah Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) di Semarang. Program utama Gerwis adalah menuntut UU Perkawinan, mengkampanyekan hak-hak perempuan, serta memperjuangkan hak-hak kaum buruh dan tani.

Gerwis kemudian berubah nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dalam kongres pertama di Jakarta, Desember 1951. Dalam kongres ini Umi memenangi pemilihan sebagai ketua umum tapi memilih mengundurkan diri dan menyerahkannya kepada Suwarti Bintang, anggota PKI, yang juga teman baiknya. Yang akhirnya menempatkan Umi di posisi sebagai wakil ketua, bersama Trimurti.

Namun pada kongres kedua tahun 1954, ketika suara kongres mengkrucut menghendaki Umi sebagai pemimpin Gerwani, akhirnya beliau bersedia menerimanya

Tahun 1959 Umi melangkah ke parlemen sebagai utusan dari fraksi Golongan Karya. Pupuler di basis, di politik pengaruhnya pun makin diperhitungkan. Umi dikenal konseptor dan piawai melakukan lobby.

“Bu Umi orangnya sangat luwes. Bahkan dengan musuh-musuh politiknya seperti Mr. Kasman Singodimejo dan Chairul Saleh pun, bu Umi bisa ngobrol dengan baik di luar sidang, setelah sebelumnya sebelumnya berdebat keras sekali”, ungkap salah seorang mantan anggota Gerwani.

Gerwani mendidik kadernya untuk menjadi perempuan melek politik dan mandiri.

“Saban hari kami turun ke basis-basis tani dan buruh, mendirikan TK Melati, penitipan anak dan kursus buta huruf gratis, Umi mencatat, sekitar 1.500 balai penitipan anak dibangun Gerwani pada tahun 1960-an. Para petani, buruh, tak perlu membayar. Disitulah ladang rekrutmen anggota berlangsung efektif. Nilai-nilai Gerwani yang dipasok ke anggotanya adalah kemerdekaan, kerja keras dan pengabdian pada perjuangan”, jelasnya.

Bagaimana hubungan Gerwani dengan PKI? Kendati tidak secara resmi berafiliasi, tak dapat dimungkiri adanya kedekatan ideologi dan politik dengan PKI. Capaian peningkatan kader pun banyak dinilai karena pengaruh PKI. Salah satunya, lewat kerjasama dengan SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan Buruh Tani Indonesia (BTI). Kader-kader Gerwani rajin menemui basis-basis buruh dan petani. Melakukan kegiatan bersama, juga aksi solidaritas, memperjuangkan upah, cuti haid bagi buruh perempuan, hingga memperjuangkan reformasi agraria bersama BTI.

Mulai 1960-an, Gerwani dominan dengan isu-isu imperialisme dan kolonialisme, mempertegas garis politik Gerwani yang mendekat ke PKI. Umi menyatakan bahwa “program PKI menjamin emansipasi dan hak sama untuk perempuan.” Di situ pula awal perpisahan Umi dengan Trimurti, karibnya semenjak gadis. Dalam buku Saskia digambarkan bagaimana Trimurti kecewa dengan dominasi PKI dalam Gerwani.

Bergabung dalam pasukan gerilya sedari muda, Umi matang secara mental, pemikiran dan politik. Umi membaca tulisan-tulisan Marx, juga Clara Zetkin, aktivis Bolsevik yang sering dikutip Soekarno dalam Sarinah.

Gerwis inilah yang kemudian dalam Kongres II di Jakarta mengubah nama menjadi Gerwani. Dalam Kongres inilah Umi ditetapkan sebagai ketua umum. Sementara itu Harti Warto, Ny Mudigdo dan Salawati Daud sebagai wakil ketua. Sekjen dipegang oleh Sulami, Kartinah Kurdi, dan Masyesiwi.

Semua tokoh tersebut kini sudah meninggal. Hampir semuanya pernah merasakan dinginnya lantai hotel prodeo dan siksaan keji fisik dan seksual yang dilakukan tentara Orde Baru. Selain Sulami, semua pemimpin tersebut dijebloskan ke penjara tanpa pernah diadili. Umi dipaksa merasakan dinginnya penjara Bukit Duri selama 13 tahun dengan siksaan fisik dan psikis yang membuatnya bersikap sangat tertutup sekeluarnya dari penjara.

Di masa kepemimpinan Umi, anggota Gerwani meningkat pesat, dari 500.000 menjadi 1,5 juta dan memiliki cabang hampir di semua daerah. Program-programnya sangat populis dan tak hanya terbatas dari isu perempuan. Mulai dari penolakan praktik poligami, pendirian TK Melati dan penitipan anak hingga tingkat kecamatan guna meringankan beban perempuan-perempuan petani dan buruh yang mesti membantu suaminya bekerja, sampai kampanye perdamaian dunia.

Gerwani sendiri mempunyai kegiatan tetap di bidang sosial, yakni kerap menyelenggarakan kursus pemberantasan buta huruf, membangun sekolah, serta menangani masalah perempuan buruh dan petani.

Umi Sarjono percaya dan kerap mengajak wanita yang ditemuinya untuk meyakini berorganisasi adalah alat perjuangan yang penting. Politik bukan hanya wilayah laki-laki.

“Perempuan harus aktif, manut satu partai atau satu organisasi. Kita harus sabar, perjuangan kita memang tidak gampang. Karena ini negeri agraris, wanita harus progresif. Kita bukan negara industri, buruh lebih maju daripada petani. Buruh itu sejak lahirnya sudah dinamis, punya karakter tersendiri yang terus dan harus menghendaki perubahan,” ujar Umi menegaskan.

Salah satu sikap Gerwani adalah menentang poligami, isu yang sudah menjadi kontroversi sejak kongres perempuan pertama tahun 1928.

“Kami menentang, dan kami putuskan tidak hanya menentang, tapi juga melaksanakannya dalam organisasi. Tidak boleh ada orang poligami. Kalau ada yang poligami kita nasehati, supaya nyingkir dulu. Jangan mimpin!” papar Umi.

Namun persoalannya jadi lain ketika Sukarno mengawini Hartini pada 1962. Gerwani bergeming saja. Gerwani, seperti ditunjukkan berusaha menjaga hubungan harmonis antara Sukarno dan Partai Komunis Indonesia.

Waktu itu kita belum punya UU Perkawinan. Jadi kita harus punya. Menurut Gerwani, UU Perkawinan prinsipnya harus monogami. Tidak boleh bermadu. Kalau di organisasi dilaksanakan. Kalau ada anggota yang dimadu tidak boleh jadi pemimpin,” ujarnya.

“Sebetulnya tidak begitu. Soalnya tidak sesederhana itu. Itu tanggung jawab pribadi. Perkara monogami dan poligami, itu saja yang harus diatur dengan UU,” ujarnya.

Menutur Umi, UU Perkawinan juga menjadi program yang diperjuangkan Umi Sarjono ketika menjadi anggota Parlemen. Dia menegaskan bahwa perjuangan bagi UU Perkawinan harus dipandang sebagai perjuangan melengkapi revolusi nasional.

Yang menarik, Umi juga menyebut Gerwani memiliki pandangan terbuka terhadap keberagaman termasuk seksualitas. Jika ada anggota Gerwani yang lesbian. Dulu ketua saya juga punya ‘penyakit’ itu beliau bernama Tris Metty. Dalam perkembangannya masyakat pun berubah stigma dan sejak 1993, homoseksual, termasuk lesbian, sudah dicabut dari daftar gangguan penyakit jiwa”, ujar Umi.

Diungkapkan, Tris Metty merupakan ketua pertama Gerwis, dan sebelumnya pernah jadi ketua Rukun Putri Indonesia (salah satu organisasi yang kemudian bergabung ke dalam Gerwis). Dalam konferensi bagi persiapan kongres pertama Gerwis di Yogyakarta, dia digeser karena dianggap ”terlalu avonturir” lantas digantikan oleh Trimurti. Tapi ada dugaan alasannya karena dia seorang lesbian, dan akhirnya Tris Metty memutuskan untuk berterus terang kendati beliau seorang lesbianisme.

Di masa kepemimpinan Umi Sarjono, anggota Gerwani meningkat dari 500 ribu menjadi 1,5 juta dan memiliki cabang hampir di semua daerah. Gerwani menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Belum ada satu pun organisasi perempuan modern mampu menghimpun anggota sebanyak itu hingga kini.

“Kerjasama dengan serikat buruh dan Buruh Tani Indonesia (BTI). Jadi kita bagi pekerjaan. Kalau kita mau perluasan anggota, kita temui basis buruh dan petani. Lalu kita rapat bersama. BTI itu mendukung, jadi kita gampang”, ungkap Umi.

 Menurutnya, dana bukanlah persoalan. Untuk biaya operasional, setiap anggota membayar iuran 5 sen.

“Kalau ongkos-ongkos ditanggung sendiri. Namun beda lagi jika itu konferensi internasional, ada bantuan pemerintah, meski sedikit, atau mendapat biaya dari pengundang”, jelas Umi.

Saat memimpin Gerwani, Umi menghadiri berbagai acara Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS) di Helsinki, Berlin, Praha, Moskow, Al jazair, dan Peking (Beijing).

“Setidaknya setahun sekali saya pergi ke luar, antara lain ke Berlin, Praha, Moskwa, Al­jazair, dan ke Peking (Beijing-red). Saat ke Aljazair, saya pergi dengan rombongan Bung Karno,” kisahnya saat itu.

Dalam keanggotaan GWDS, menurut Umi, Gerwani merupakan organisasi yang cukup maju. Ia menyebutnya progresif. Gerwani ikut serta dalam Sidang Dewan GWDS di Beijing yang menghasilkan beberapa tuntutan, antara lain menghentikan perlombaan senjata, melarang percobaan senjata atom, serta sebuah rekomendasi untuk menyelenggarakan Konferensi Wanita Asia-Afrika guna memperluas perdamaian dan menghapus perang.

“Dulu Gerwani gabung dengan Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS) atau World Women Democratic Federation. Tujuan kita adalah perdamaian dunia. Jadi kalau ada konflik regional jangan dibiarkan terus, harus cepat diselesaikan. Kita bersatu, sesama buruh, petani, pemuda, ada komite perdamaian di situ. Programnya untuk mempertahankan perdamaian dunia”, tambahnya.

Saat Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di tahun 1955, Umi membuat tulisan panjang di koran Harian Rakjat berjudul “Sumbangan Wanita dalam Menyambut Konferensi Asia-Afrika.” Artikel yang terbit tanggal 13 April 1955 itu menyebut bahwa KAA tak hanya punya makna bagi perdamaian di kawasan regional dan Afrika, tapi juga per­juangan perempuan.

Sebagai gerakan progresif, Gerwani kerap dituding sebagai gerakan feminis dari Barat.

“Tidak hanya Barat, tapi juga gerakan komunis, kekiri-kirian. Tapi ya kami jalan terus. Kami buka pintu yang lebar untuk kerjasama, kerjasama untuk panitia 8 Maret (Hari Perempuan Internasional), kerjasama untuk aksi menuntut UU Perkawinan dan isu lainnya. Sabar saja, saya kira ada prosesnya”, papar Umi.

Umi Sarjono mengungkapkan bahwa keputusan tentang ke mana Gerwani harus “berpayung” baru akan dilakukan dalam Kongres kelima Gerwani pada Desember 1965. Namun, sebelum Kongres digelar, peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi dan mengubah semuanya, dimana para aktivis Gerwani diburu sebagai pesakitan.

Hubungan Masyumi dan Gerwani, yang secara politik dekat dengan PKI, ibarat dua kutub yang saling berhadapan. Sementara Chairul Saleh ketua MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), pendiri partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), juga musuh berbuyutan Gerwani dan PKI.

Umi rajin menyambangi berbagai organisasi perempuan untuk diajak bekerjasama. Misalnya dalam peringatan hari Kartini atau hari perempuan internasional, Umi melibatkan mereka dalam kepanitiaan bersama.

“Kowani dan Perwari itu termasuk yang sulit untuk dilobby. Ibu Sartowiyono pimpinan Perwari itu galak sekali. Keras. Tapi ia baik sekali dengan Bu Umi. Itu karena lobi Bu Umi, dengan dibantu dr Hurustriati Subandrio dan Utami Suryadarma, istri Panglima AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) Surjadi Suryadarma. Dengan ketua Kowani Yetty Noor dari PSI (Partai Sosialis Indonesia), juga akrab sekali”

Kowani (Kongres Wanita Indonesia) adalah sebuah organisasi besar. Di dalamnya ada Fatayat NU, Muslimat, Wanita Katolik, Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia), Wanita Demokrat (Marhaen). Sri menilai, kedekatan dengan Trimurti lah salah satu yang membentuk keluwesan politiknya. “Bu Umi ini orangnya Trimurti. Khasnya adalah merangkul orang lain yang bukan PKI.”

Hubungan dengan Soekarno pun cukup dekat. Sri masih mengingat dengan jelas bagaimana kegigihan Umi menerobos protokoler istana, demi melobi Soekarno untuk memberi sambutan dalam perayaan ulangtahun Gerwani ke 15, 4 Juni 1965.

“Waktu itu DPP Gerwani sudah mengirimkan surat ke Sekretariat Negara (Setneg). Sudah satu bulan dan tak ada tanggapan.“

Acara hendak dimulai beberapa jam lagi, jawaban dari Setneg belum ada. Jam 14.00, Umi Sarjono mengajak Salawati dan Sri Sukatno menghadap Soekarno di istana.

“Kenapa mendadak???” nada Soekarno meninggi.

Umi menjelaskan. Tanpa banyak bicara, Soekarno mengiyakan. Istirahat sebentar, berganti baju dan mereka pun berangkat. “Bung Karno duduk di jok belakang, di sampingnya bu Umi, bu Salawati dan saya.” Mobil Indonesia-1 pun melaju ke Senayan.

Ribuan massa tumpah ruah di Senayan, sebuah gedung megah yang dibangun 1962 untuk acara GANEFO (Games of the New Emerging Forces), ajang olahraga tandingan Olimpiade, sebuah gagasan Soekarno. Bendera merah putih dan melati sebagai lambang Gerwani, berkibar-kibar di segala penjuru.

“Pokoknya Senayan penuh sesak. Orang-orang pakai baju biru semua, seragam Gerwani. Moment itu pertama kalinya ulang tahun Gerwani dirayakan besar-besaran.

“Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia termasuk Gerwani agar mendukung perjuangan nasional bangsa Indonesia untuk menyukseskan Dwikora dan Trikora!!”, ungkap gerwani seraya mengenang pidato Soekarno di Senayan.

Di atas podium Umi berdiri tegak. Laporan kemajuan Gerwani, penambahan jumlah kader dan cabang, disambut sorak sorai massa 10 ribuan massa. Tepuk tangan dan yel-yel tak putus-putus. Mars Gerwani pun bergaung seantero Senayan.

Acara makin semarak dengan berbagai pentas seni. Tari-tarian dengan kostum meriah dari Baperki, Ensamble Gentasuri, Koor terbaik pimpinan Made Yase, juga beberapa kesenian daerah.
Bing Slamet, seniman yang dekat dengan Lekra dan seorang Soekarnois, menyumbang lagu. Mawarti Sudarnoto, penyiar RRI bersuara renyah, kesayangan Soekarno, didapuk sebagai pembawa acara. Perayaan ulang tahun ke 15 Gerwani kala itu menjadi headline di semua koran. Namun setelah empat bulan kemudian, huru-hara pun itu terjadi.

Dikabarkan terjadi penculikan enam jendral TNI AD pada 30 September 1965, sehingga isu tersebut mampu menjungkirbalikkan konstelasi politik. Dimana PKI, dan seluruh organisasi kiri dituding sebagai pelaku pemberontak. Pengurus, anggota dan simpatisannya diburu hingga ke lubang tikus. Kantor-kantor mereka dibakar. Rumah dan asset pribadi dijarah. Ratusan ribu dijebloskan ke penjara atau ditembak mati tanpa diadili.

Oktober 1965, Umi ditangkap usai bersidang di Senayan. Berlima dengan Salawati Daud, Ny. Mudigdo, Siti Aminah dan Dahliar, ia digelandang ke markas Kostrad. Diinterogasi berhari-hari, hingga akhirnya dijebloskan ke penjara Bukit Duri, 13 tahun lamanya.

Umi ditangkap saat pulang dari kantor. Seperti banyak anggota Gerwani lainnya, Umi dipenjara di penjara Bukit Duri selama 13 tahun tanpa diadili. Dia menerima siksaan fisik, seksual, dan psikis oleh tentara Orde Baru yang membuatnya bersikap tertutup sekeluarnya dari penjara.




Perlakuan Rejim Suharto
Terhadap Umi Sardjono dan Gerwani

Kalau mengingat itu semua, dan kemudian memperhatikan perlakuan rejim militer Suharto terhadap Umi Sardjono dan organisasi perempuan Gerwani yang dipimpinnya sesudah terjadinya G30S, maka bisa dimengertilah bahwa banyak orang mengatakan dengan kemarahan besar atau emosi yang meluap-luap – bahwa penguasa militer Suharto dengan para jenderal yang mendukungnya adalah sekelompok oknum-oknum yang merupakan sampah bangsa, atau penyakit parah yang membikin rusaknya jiwa banyak orang Indonesia.

Perlakuan terhadap Gerwani dan Umi Sardjono, pimpinan tertinggi organisasi perempuan yang terbesar di Indonesia (sekitar 1,5 juta anggotanya di seluruh Indonesia) dan tokoh yang terkenal sebagai  pendukung politik Bung Karno, adalah sekelumit kecil saja dari dosa-dosa  rejim militer Orde Baru. Dosa-dosa besar ini tidak bisa – dan tidak boleh !!! – dilupakan sama sekali oleh bangsa Indonesia berikut generasi-generasi yang akan datang.

Umi Sardjono ditangkap dan dipenjarakan belasan tahun setelah terjadinya G30S, tanpa putusan pengadilan, tanpa kesalahan apa-apa, seperti halnya puluhan ribu pengurus GERWANI di seluruh daerah Indonesia. Banyak di antara mereka ini yang telah dibunuh begitu saja, atau ditahan dan disiksa (termasuk diperkosa). Sebagian dari tokoh-tokohnya dipenjara bertahun-tahun  (bahkan banyak yang sampai belasan tahun) berpindah-pindah di Cipinang, Bukitduri, Plantungan, dan berbagai penjara atau tempat tahanan (di Kodim-kodim) di seluruh Indonesia.

Penderitaan para anggota atau simpatisan Gerwani, akibat penyiksaan secara fisik dan mental secara besar-besaran dan berjangka lama ini dapat disimak dalam berbagai tulisan atau dokumen yang sudah beredar selama ini. Para penguasa rejim militer Suharto adalah betul-betul merupakan orang-orang yang berakhlak rendah, atau oknum-oknum yang sama sekali tidak berhak dan juga tidak pantas menyebutkan diri mereka sebagai orang-orang yang beradab dan bermanusiawi.

Orde Baru Lancarkan Propaganda Penghancuran Peran Gerwani

Orde Baru telah selama 32 tahun secara sistematis, terus-menerus, dan secara luas serta berjangka panjang kian gencar menyebar banyak sekali kebohongan dan segala macam fitnah, untuk menimbulkan kebencian masyarakat luas terhadap Gerwani (dan PKI).

Di antara kebohongan atau fitnah itu adalah bahwa Gerwani terlibat dalam G30S. Padahal, banyak bukti-bukti yang menunjukkan dengan gamblang sekali bahwa kebanyakan pengurusnya atau anggota-anggotanya baik di tingkat nasional maupun daerah idak ada yang tersangkut (sedikit pun)  dalam G30S. Bahkan, mengetahuinya sedikit pun juga tidak.

Dalam jangka yang lama sekali koran-koran dan majalah jaman  Orde Baru menyiarkan cerita-cerita gila, atau isapan jempol, atau dongeng-dongeng tentang Gerwani, umpamanya bahwa organisasi perjuangan ini adalah gerakan perempuan yang asusila atau menganjurkan sex bebas  serta pelacuran. Banyak cerita yang dikarang-karang tentang anggota Gerwani yang ikut mencukil mata, bahkan memotong kemaluan atau menyayat-nyayat para jenderal yang terbunuh dengan silet.

Cerita gila dan fitnah yang keterlaluan busuknya dan juga yang pernah banyak beredar (dan terkenal) adalah upacara pesta gembira di Lubang Buaya dengan terbunuhnya para jenderal. Dalam upacara yang diberi nama “Harum Bunga” ini anggota-anggota Gerwani menari-nari dan menyanyi-nyanyi  dengan telanjang. Sudah jelaslah kiranya bahwa segala kebohongan yang begitu besar dan semua fitnah yang begitu busuk itu tentunya tidak bisa datang dari fikiran orang-orang yang sehat jiwanya atau waras nalarnya.



Harus Dilakukan Rehabilitasi
Pelurusan Sejarah Untuk Gerwani

Gerwani, organisasi yang dibangun selama 15 tahun, yang bervisi tegas memperjuangkan hak perempuan dan melawan imperialisme itu pun tumbang. Organisasi dengan anggota 1,5 juta runtuh seketika. Babak baru tergelar. Gerwani dicap sebagai organisasi beringas dan amoral. Umi meradang. Dalam pemeriksaan, berkali-kali ia menolak fitnah keji terhadap Gerwani.

Tahun 1998, rezim Soeharto tumbang setelah berkuasa 32 tahun. Ruang demokrasi melonggar. Lawan-lawan politik yang dulu dipenjarakan, mulai lantang bersuara. Narasi kebohongan Soeharto sedikit-sedikit dilucuti. Organisasi korban 1965 pun bermunculan, menuntut pemerintah untuk mengusut tuntas pelanggaran HAM berat pembantaian massal anggota dan simpatisan PKI.

Dalam gegap gempita itu, banyak pertanyaan, kenapa Umi tidak banyak bersuara? Memoar yang ditunggu-tunggu darinya juga tak muncul. Padahal dia orang nomor satu di Gerwani.

“Bu Umi merasa sangat bersalah. Terutama kepada anggota, pada orang-orang yang tidak bersalah itu. Termasuk tujuh orang gadis yang dituduh menyilet-nyilet itu. Tanggungjawab sebagai pemimpin itulah yang membuatnya sangat tertekan….” tutur Ruth Indiah Rahayu (yuyud) seorang aktivis perempuan. Sekaligus istri mantan ketua CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia), almarhum Hardoyo. Umi dan Hardoyo sama-sama anggota DPR GR.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sri Sukatno, yang pernah sama-sama menghuni penjara di Bukit Duri. Rurt mengaku mengetahui secara benar bagaimana Umi sangat perhatian terhadap anak-anak ini (perempuan yang difitnah dan dihukum sebagai pelaku penyilet kemaluan ke enam jenderal TNI).

“Dulu, kalau jadwal besuk adalah Rabu dan Minggu. Bu Umi sering di besuk oleh saudaranya. Kalau bawa makanan, bu Umi suka umpetin, bukan buat dimakan sendiri, tapi dibagikan kepada 7 anak ini”, ungkap Sri menegaskan.

Sejenak suara Sri tertahan lantas meneruskan ucapannya, Sri mengaku melihat sendiri Umi mengurus anak-anak yang gak ngerti apa-apa itu. Mereka kemudian diajarkan membaca entulis dan bahasa Inggris. Bu Umi sabar sekali, meski kebanyakan dari mereka itu akhirnya gila karena terus-terusan disiksa para tentara.

Tujuh gadis ini berasal dari kampung, ada yang dari Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur. Diajak ke Jakarta dengan iming-iming bekerja di restoran. Sampai Jakarta, mereka dilemparkan ke tangan germo. Dipaksa melacur, dan tertangkap dalam pada akhir September 1965. Tentara segera membangun sebuah dongeng baru, gadis-gadis ini sebagai tokohnya.

“Mereka itu Eny, Jamilah, Henny, Jujuk, Waginah, dan Karsiah yang disiarkan di RRI (Radio Republik Indonesia), sebagai anggota Gerwani yang nyilet-nyilet penis jendral itu. Mereka disiksa habis-habisan. Kepalanya dibenamkan ke bak mandi, disundut rokok, dipopor senapan. Tak tahan, mereka meneken saja Berita Acara yang dibuat petugas. Jadilah skenario mereka sebagai anggota Gerwani yang biadab!” tutur Sri dengan geram.

Rangkaian horor Gerakan 30 September terus beredar. Dalam buku Terempas Gelombang Pasang, Sudjinah, mantan pengurus DPP Gerwani melukiskan bagaimana para perempuan itu disuruh menari telanjang di penjara Bukit Duri. Foto-foto itulah yang kemudian disebar di koran Angkatan Bersenjata, Berita Yudha dan dikutip koran-koran lainnya. Setiap hari, hingga bertahun-tahun lamanya.

Tahun 1980-an, Ben Anderson, ahli Indonesia dari Universitas Cornell melansir temuan baru berupa bukti visum tim dokter, yang menyibak fakta bahwa kekejaman berupa penyayatan kelamin itu bohong belaka. Tapi kampanye fitnah terus berjalan tanpa pandang bulu, dengan media pers sebagai corongnya. Soekarno berkali-kali menolak bangunan fitnah yang menghantam kelompok kiri itu. Apa daya, kekuasaan sudah terenggut dari tangannya.

Umi dan beberapa anggota DPR GR di penjara Bukit Duri tak mengalami siksa fisik. Tapi Umi harus menyaksikan bagaimana ketujuh gadis-gadis ini disiksa. Mendengar para pengurus Gerwani di cabang, ranting ditangkapi dan dijebloskan ke penjara. Para anggota dan simpatisan dikejar-kejar. Para guru TK Melati hilang malam-malam tak tentu rimbanya.
Tanggungjawabnya sebagai pemimpin terluka. Umi terluka. Itu membuatnya tak sanggup bersuara.

Umi keluar dari Bukit Duri pada 1976, dijemput oleh Ngastiyah adiknya. Saat itu Sukisman masih mendekam di Pulau Buru. Umi kemudian menempati rumah kecil di Tegalan, Matraman (Depan Toko Buku Gramedia) Jakarta Timur, milik ponakannya Narti Sutomo, yang dianggapnya sebagai anak angkat. Pernikahan dengan Sukisman tak membuahkan anak.

Rumah di gang sempit itu berjarak tak lebih 500 meter dari bekas kantor Gerwani. Sekarang di lahan itu berdiri sebuah restoran padang.

“Tetangga-tetangga tahu gak kalau Bu Umi itu pimpinan Gerwani?” Saya bertanya ke beberapa orang tetangganya.

“Gerwani sih tahu. Tapi posisinya persis sebagai ketua, saya rasa tidak….” jawab Ning. Rumah Ning persis di depan rumah Umi. Ia warga asli Tegalan. Usianya 50-an tahun. Berperawakan kecil dengan rambut pendek. Kendati tak ada hubungan saudara, ia mengakui cukup dekat dengan keluarga Umi. Dulu, ia kerap berlatih angklung di kantor Gerwani.

“Tetangga baik kok pada Bu Umi. Gak reseh. Mungkin karena Bu Umi juga baik. Cuma memang gak pernah ikut kegiatan di kampung. Mungkin karena udah tua dan sakit-sakit.” tambahnya.

Sukisman dan Umi pernah membuka warung tenda di Tegalan. Jualan mie ayam, bakso, es serut. Namun, ketika Sukisman jatuh sakit, warungnya tak terurus. Bangkrut. Sukisman wafat pada September 1991.

Lalu Umi tinggal sendiri di Tegalan, ditemani suami istri Sukirno dan Ester. Keponakan-keponakannya yang membantu keuangan, termasuk membiayai ketika Umi masuk rumah sakit. Pemasukan lain diperoleh dari menyewakan kamar rumahnya. Dulu ada beberapa kamar di lantai atas yang disewa. Sekarang, hanya satu kamar, disewa ibu-ibu yang berjualan nasi goreng di dekat Gramedia. Harga sewanya 500 ribu sebulan.

Umi mulai menderita berbagai penyakit usia tua. Diabetes, glukoma, jantung. Sebelumnya, ia dikenal sangat gesit. Umi sering berkeliling kampung memakai tongkat, berbelanja. Kendati, kadang-kadang dia sudah lupa dengan nilai uang yang dibawanya.

Kendati daya ingatnya masih jernih, kadangkala pikunnya menyerang. Umi sering sekali bilang “Aku ki ora terlibat!” Umi benci sekali melihat acara “Silet” di televisi. Kalimat “setajam silet” kerap membuatnya langsung menutup kuping dan masuk kamar. “Opo, disilet-silet? Aku ora terlibat! Gak ada itu silet-siletan!”

Umi terpukul ketika kehilangan kawan-kawannya, termasuk ketika Kartinah Kurdi, Sekjen Gerwani, kawannya yang paling dekat wafat. Saat itu Umi tengah sakit, saudara dan kawan-kawannya tak sampai hati mengabarkan berita duka itu. Beberapa hari, setelah fisiknya menguat, seorang kawan membisikinya pelan-pelan.

“Ora. Kartinah isih urip! Aku pengen ketemu!!” Umi meronta. Air mata menggenang di sudut matanya. Ia terpukul sekali.

Trimurti juga karibnya yang paling lama. Perkawanannya terentang lebih dari setengah abad. Ia memanggil “Yu Tri.” Sama-sama di pasukan gerilya jaman Jepang, membangun Gerwis, hingga akhirnya berpisah ketika Tri memutuskan keluar dari Gerwani dan aktif di Murba. Di masa tua, mereka kembali saling mengunjungi.

Ester berkisah, dulu sering diajak ke rumah Tri di daerah Salemba. Tri wafat pada 2008, dalam usia 96.

“Waktu Bu Tri meninggal itu, saya disuruh nganter ke pemakaman di Kalibata. Pakai kursi roda”, kenangnya.

Setelah kedua kawan berjuangnya pergi, Umi kembali bergelut dengan penyakit tuanya. Sejak Februari 2010 sebelah kaki kirinya lumpuh. Saat itu ia tertabrak sepeda motor ketika tengah berbelanja. Sejak itu ia hanya bisa terbaring di tempat tidur.

Ketika saya berkunjung ke rumahnya beberapa tahun silam, Umi jernih bertutur tentang rezim SBY yang tak jauh beda dengan Soeharto, tentang keprihatinannya kekosongan organisasi perempuan seprogresif dulu.

“Organisasi perempuan harus kuat, harus progresif, harus politis…,” tuturnya Umi sembari mata terpejam. Sebab, glukoma yang menyerang matanya telah membuat pandangannya kabur.

“Bila ada bantuan untuk dirinya, bu Umi memilih diberikan kepada anak-anak buahnya yang lebih membutuhkan. Sumbangan untuk operasi glukomanya pun, dia berikan kepada yang lain. Ia juga merasa bersalah, karena ia sebagai pimpinan, justru keluar lebih dulu dari penjara. Lebih dulu dari kawan-kawan lainnya. Sekeluar penjara, Bu Umi berkeliling ke anak buahnya, meminta maaf pada mereka. Ia adalah satu dari sedikit pimpinan yang melakukan itu! “ tandas Ruth.

Sebuah dipan berukuran sedang, lemari tua, meja kayu yang di atasnya berjajar beberapa buku. Juga ada Alquran. Di dinding tergantung bingkai foto berukuran 10 R. Foto ketika masih sebagai anggota DPR. Cantik dan bugar. Sebuah radio bertengger di atas meja. Semuanya barang tua. Tak satupun yang mewah.

“Ini tulisan budhe Umi….” Mimin menunjukkan sebuah buntalan plastik. Kertas-kertas kusam, beberapa bundel fotokopi, juga beberapa lembar ketikan. Sebagian sudah bolong dimakan rayap. Sebagian tulisan tangannya kabur dimakan usia.

“Dulu sebelum matanya gak bisa lihat, Bu Umi masih suka mengetik sendiri. Ditulis tangan, terus diketik. Saya yang disuruh bacakan ….“ kata Mimin.

Saya membolak-balik tumpukan kertas itu. Tampak Umi berusaha keras menyusun penggalan memoarnya. Umi menulis di kertas apa saja. Di balik soal sekolah sampai fotocopy majalah. Dalam coretannya, berkali-kali Umi menegaskan, menolak tuduhan terlibat Gerakan 30 September. “Ormas Gerwani yang didirikan untuk menegakkan emansipasi wanita menentang diskriminasi gender, partisipasi dalam perjuangan menyelesaikan revolusi nasional menentang kolonialisme. Sekarang Gerwani diserang dengan fitnah sadis dan kotor. Semua tuduhan rekayasa dan fitnah tak ada satupun yang bisa dibuktikan…” tulisnya.

Gerwani adalah jalan hidup Umi. Belasan tahun ia membangun dan membesarkannya. Dan Soeharto, meluluhlantakkannya seketika.

“Bagaimana perasaanmu Min?”

“Ya sedih lah. Sedih banget…” Mimin menunduk. Tangannya memencet-mencet HP. Umi banyak menitipkan kisahnya pada Mimin, kendati barangkali gadis itu hanya sanggup mencerna semampunya.

“Saban hari Budhe cerita soal Gerwani, bagaimana dulu dia berpidato, kasih pendidikan, keliling dunia kasih sambutan. Pasti dia orang hebat. Sangat penting. Trus kesepian. Meninggal juga gak ada yang tahu…” Mimin kembali tersedu.
Menjelang Ashar, tamu-tamu yang akan tahlilan mulai datang. Saatnya pulang. Sekali lagi, saya menatap gambar Umi semasa muda. Segar dan cantik. Pancaran matanya kokoh. Hatinya teguh.Sekarang Umi Sardjono sudah wafat. Terakhir ia  tinggal di rumah seorang sahabatnya yang merawatnya, karena satu kakinya lumpuh. Umi Sardjono pernah ditahan di penjara di Bukitduri (Jakarta) sampai belasan tahun, seperti halnya banyak pimpinan Gerwani lainnya. Meskipun tidak bersalah apa-apa sama sekali. Sejak dibebaskan dari tahanan di penjara Bukitduri sampai wafatnya ia terpaksa hidup dengan berbagai penderitaan.

Perlakuan yang tidak manusiawi, yang melanggar HAM, yang bertentangan dengan peradaban, yang melanggar hukum, yang semacam yang dialami Umi Sardjono inilah yang perlu diangkat atau dipersoalkan dan dihujat terus-menerus oleh sebanyak mungkin dari berbagai kalangan di Indonesia dewasa ini, dan untuk selanjutnya.

Sebab, bangsa kita tidak bisa disebutkan sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang menghargai peri kemanusiaan, bangsa yang menjunjung keadilan, bangsa yang berpedoman Pancasila, kalau membiarkan terus kasus Umi Sardjono seperti angin lalu saja. Sebab, kasus Umi Sardjono hanyalah satu kasus saja dari jutaan kasus yang serupa atau sejenis yang dialami oleh banyak orang di Indonesia. Artinya, orang-orang yang tidak bersalah apa-apa sama sekali namun diperlakukan sewenang-wenang (antara lain ditangkapi, disiksa, diperkosa, dipenjara  bahkan dibunuh) hanya karena mereka mempunyai sikap kiri atau pro-PKI.

Umi Sardjono adalah pejuang politik yang sudah dipenjarakan karena memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia kemudian menjadi pimpinan Gerwani dan sering berkunjung ke Moskou, Berlin, Praha, Peking dan kota-kota lainnya.

Para penguasa rejim militer Orde Baru (termasuk tokoh-tokoh GOLKAR) harus bertanggung-jawab atas kesalahan atau kejahatan yang begitu besar, dan menebus dosa-dosa mereka. Antara lain dengan minta maaf, dan mengakui kesalahan mereka, dan berusaha dengan macam-macam cara dan segala jalan untuk merehabilitasi Umi Sardono dan Gerwani serta memberi kompensasi selayaknya kepada mereka ataupun keluarganya.

Dengan merehabilitasi Umi Sardjono dan Gerwani, maka kita bisa mendudukkannya kembali pada tempatnya yang  seharusnya  sebagai organisasi perempuan Indonesia yang patut jadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.

Rehabilitasi Gerwani adalah satu langkah penting menuju rehabilitasi gerakan kiri Indonesia pada umumnya. Dan rehabilitasi gerakan kiri Indonesia adalah penting untuk kebaikan bangsa sebagai keseluruhan. Gerakan kiri adalah asset bangsa Indonesia yang sangat diperlukan, seperti yang sudah ditunjukkan dengan gamblang sekali oleh  era di bawah kepemimpinan Bung Karno.

Kisah Umi Sarjono, yang keluar masuk penjara di masa revolusi kemerdekaan. Memimpin organisasi perempuan terbesar. Meninggal dalam sunyi, di usia 88 tahun. Kita berhutang untuk meneruskan perjuangan Gerwani. Dan negara selayaknya merehabilitasi nama baiknya.

Saat dirawat di Rumah Sakit Thamrin enam tahun lalu karena terjatuh dari kamar mandi, Umi mengatakan bahwa ia tak ingin mati sebelum melihat sebuah gerakan perempuan dengan kesadaran populis seperti Gerwani lahir di Indonesia. Kini, saat ia benar-benar sudah menutup mata, terwujudnya impian Umi sepenuhnya bersandar pada kesadaran para aktivis perempuan di generasi yang lebih muda. Semoga impiannya tak sia-sia. (San)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar